Sewa Elf Jakarta Ziarah Syekh Quro Dan Mama Ajengan Bakri Plered

Sewa Elf Jakarta Ziarah Syekh Quro Dan Mama Ajengan Bakri Plered

WA : 0812-8044-0322

Wisata religi kali ini kita menuju ke Karawang dan Purwakarta. Di 2 tempat ini kita akan mengunjungi makam Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri. Nah, bagi anda yang tertarik untuk melakukan wisata religi ini. Kami berikan fasilitas sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered, dari Batavia Trans.

Seperti diketahui, makam Syekh Quro berada di Karawang, sementara MamaAajengan Bakri dimakamkan di Purwakarta. Namun meskipun kedua lokasi wisata religi ini berada di 2 tempat yang berbeda. Namun anda bisa kok.. mengunjunginya hanya dengan 1 armada transportasi saja. Tentunya dengan menggunakan sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered.

Fasilitas jasa sewa ini, diberikan oleh Batavia Trans, bagi peziarah seperti anda yang selalu kesulitan untuk mencari armada yang tepat untuk perjalanan ziarah anda. Karena memang, lokasi kedua makam tersebut berada di luar jalur ziarah walisongo, sehingga seringkali ziarah ke 2 makam ulama besar ini terlewatkan.

Biografi Syekh Quro

Syekh Quro bernama lengkap Syekh Hasanudin. Namun beliau juga terkadang dipanggil dengan sebutan Syekh Qurotul Ain ataupun Syekh Mursahadatillah. Sebutan Qurotul Ain diberikan padanya, konon, karena beliau memiliki suara yang indah saat melafalkan ayat-ayat alquran.

Tak banyak yang tahu kapan beliau dilahirkan.Hanya banyak yang beranggapan bahwa beliau adalah ulama besar yang berasal dari Champa. Ayahnya bernama Syekh Yusuf  Siddiq yang masih memiliki garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin Akbar Al Husaini dan Syekh Jalaludin dari Mekkah.

Sementara dari pihak ibunya, yaitu Dyah Kirana, beliau memiliki garis keturunan dengan Sayiddina Ali bin Abi Tholib. Beliau juga masih memiliki kekerabatan dengan Syekh Nurjati Cirebon.  Bahkan dalam sebuah kisah diceritakan, bahwa sebelum tiba di Karawang, beliau sempat singgah di Cirebon.

Tepatnya di tahun 1416 masehi. Empat tahun sebelum Syekh Nurjati menginjakkan kakinya di Cirebon, yaitu pada tahun 1420 masehi. Namun, hal itu tak berlangsung lama, karena akhirnya Syekh Quro meninggalkan Cirebon, dan kemudian meenetap di Karawang, hingga akhir hayatnya.

Makamnya yang berada di Karawang banyak dikunjungi peziarah. Termasuk dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dan anda pun bisa melakukan aktivitas ziarah ke makam Syekh Quro ini, hanya dengan menggunakan jasa sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dari Batavia Trans.

a.Asal Mula Beliau Menetap Di Karawang

Sebelumnya telah diceritakan, bahwa kapal Syekh Quro terlebih dahulu mendarat di Cirebon, sebagai tempat pertamanya di pulau Jawa. Di sana, beliau disambut oleh Ki Gedeng Tapa, yang merupakan penguasa pelabuhan Muara Jati Cirebon.

Ki Gedeng Tapa atau yang juga dijuluki Ki Gedeng Jumajan Jati ini juga masih memiliki garis keturunan dengan Prabu Wastu Kencana. Di Cirebon ini juga lah, akhirnya beliau memulai aktivitas berdakwahnya dan juga melaksanakan misi untuk menyebarkan islam.  Ki Gedeng Tapa dan santri-santri Syekh Quro memanggilnya denagn sebutan Syekh Mursahadatillah.

Namun, aktivitas berdakwahnya terhambat dengan adanya pelarangan oleh raja Pajajaran kala itu, yaitu Prabu Angga Larang. Sang Prabu melarang segala bentuk kegiatan dakwah yang dilakukan Syekh Quro. Bukan hanya itu saja, Prabu Angga Larang juga mengusirnya dari Cirebon.

Mendapatkan perlakuan seperti itu, akhirnya Syekh Quro pergi meninggalkan Cirebon. Ada yang mengatakan, bahwa beliau pergi ke Malaka, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau kembali ke tanah kelahirannya, di Champa.

Namun sebelum beliau pamit, Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyimas Subang Larang padanya, untuk dididik dengan ilmu agama. Mengingat selama di Cirebon, Ki Gedeng Tapa mengagumi sosok beliau yang solih dan santun.

Akhirnya, Syekh Quro meninggalkan pulau Jawa. Baru setelah beberapa tahun berselang, beliau akhirnya kembali ke pulau Jawa, dengan menumpang pada kapal laksamana Cheng Ho, yang merupakan laksamana Tiongkok yang beragama islam. Kala itu, laksamana Cheng Ho berniat untuk melakukan perjalanan ke Majapahit.

Namun, pendaratannya kali ini, bukanlah di Cirebon. Melainkan di Karawang. Hal ini juga yang menjadi asal muasal, dirinya sering dikenal sebagai sesepuh Karawang dan juga dijuluki leluhur bagi rakyat Karawang.

Bahkan makamnya yang berada di Karawang juga banyak didatangi peziarah. Bukan hanya dari Karawang saja, namun juga dari Cirebon dan kota-kota lainnya di Indonesia. Bahkan, beliau juag disebut-sebut sebagai ulama betawi pertama. Peziarah yang dating ke makam beliau juga ada yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya, yang notabene merupakan warga Betawi.

Karena alasan itu pula, maka akhirnya Batavia Trans membuka fasilitas sewa elf Jakarta ziarah ke Syekh Quro dan Mama ajengan Bakri Plered. Dengan tujuan untuk memudahkan warga Jakarta dan sekitarnya, yang ingin melakukan ziarah ke makam ulama besar tersebut.

Singkat cerita, saat pendaratan di Karawang, beliau ditemani beberapa pengiring. Yang diantaranya adalah Nyimas Subang Larang, yang juga putri dari ki Gedeng Tapa, yang akhirnya menjadi muridnya. Belaiu tiba di Karawang pada tahun 1418 masehi.

Karena perilakunya yang santun, maka warga setempat mengijinkan beliau dan para pengiringnya untuk mendirikan sebuah mushola. Mushola itu dijadikan tempat ibadah juga sebagai tempat tinggal mereka. Mushola ini juga yang menjadi cikal bakal dari Masjid Agung Karawang pada masa ini.

Dan kawasan sekitar mushola tersebut, dijadikan sebuah pesantren, yang kala itu merupakan pesantren pertama yang berada di karawang. Di masa sekarang, pesantren tersebut dinamakan Pondok Quro, yang menjadi tempat untuk belajar alquran. Dari tempat ini juga, beliau kembali melakukan misi menyebarkan islam dan berdakwah.

Namun, berita tentang Syekh Quro ini lagi-lagi didengar oleh Prabu Angga Larang. Sang Prabu akhirnya mengutus putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup pesantren milik Syekh Quro tersebut. Dan sesampainya di Karawang, Raden Pamanah Rasa bukannya menutup pesantren tersebut, tapi malah terpikat dengan suara Nyimas Subang Larang yang kala itu sedang melantunkan ayat-ayat suci alquran.

Bukan hanya itu saja, Raden Pamanah Rasa kemudian jatuh cinta pada Nyimas Subang Larang. Mereka akhirnya menikah dan mempunyai 3 orang anak. Namun sebelum menikah, Raden Pamanah rasa terlebih dahulu masuk islam.

b. Akhir Hayat Syekh Quro

Syekh Quro merupakan ulama bermazhab Hanapi. Beliau menikah dengan Ratna Sondari dan memiliki beberapa putra. Diantaranya Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Ahmad. Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur, beliau tugaskan untuk menyebarkan syiar agama islam di daerah Karawangdi  bagian Selatan. Diantaranya di kecamatan Teluk Jambe, Ciampel, Pangkalan dan Tegal waru.

Sementara Syekh Ahmad ditugasi untukmeneruskan perjuangan Syekh Quro di Pondok  Quro dan Masjid Agung Karawang. Setelah memberikan wasiat pada ketiga putranya tersebut, akhirnya Syekh Quro memilih untuk menyepi ke bagian utara Karawang. Tepatnya di Pulo Bata,

Beliau mengajak istrinya, Ratna Sondari dan salah satu santrinya yang bernama Syekh Bentong. Di Pulo Bata ini juga, beliau dan pengiringnya tersebut, membangun sebuah sumur, yang masih ada hingga saat ini.

Di tempat inilah, akhirnya beliau wafat. Dan jenazahnya dikebumikan di kawasan Pulo Bata, desa Pulo Kalapa, kecamatan Lemah Abang, Kabupaten Karawang. Hingga kini, makamnya sering didatangi banyak peziarah. Bahkan anda pun bisa mengunjunginya, dengan menggunakan sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dari Batavia Trans ini.

Biografi Mama Ajengan Bakri Plered

Mama Ajengan Bakri atau lebih dikenal dengan Mama Ajengan Sempur dilahirkan di Citeko, Plered, Purwakarta, pada tahun 1259 hijriah, atau sekitar tahun 1839 masehi. Nama aslinya yaitu KH.Tubagus Ahmad Bakri.

Mama sendiri diambil dari kata rama, yang berarti ayah, dalam bahasa sunda. Sedangkan ajengan, merupakan panggilan terhadap ulama di kalangan suku Sunda.Ayahnya bernama KH. Tubagus Sayida. Sementara kakeknya yang bernama KH. Tubagus Arsyad adalah seorang Qadi kerajaan Banten.

Meskipun ayahnya seorang Qadi, namun KH. Tubagus Sayida tidak berminat untuk menjadi penerus ayahnya tersebut, maka akhirnya beliau meninggalkan Banten, dan menetap di Plered.Dan di Plered inilah, beliau bertemu seorang perempuan bernama Umi. Mereka pun akhirnya menikah, dan dikaruniai seorang putra, yang bernama KH. Tubagus Bakri, atau yang lebih dikenal dengan Mama Ajengan Bakri.

Selama hidupnya, Mama Ajengan Bakri dikenal sebagai ulama besar yang cakap, santun serta berbudi pekerti luhur. Hingga akhir hayatnya, keteladanan beliau selalu menjadi panutan. Makamnya yang berada di purwakarta, sering didatangi para peziarah. Bukan hanya santri-santrinya saja, masyarakat umun dari berabagai daerah, selalu menyempatkan diri untuk berziarah kesana.

Termasuk para peziarah yang berasal dari Jakarta. Mereka umumnya menggunakan sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dengan armada terbaru dari Batavia Trans. Selain itu, dengan menggunakan armada yang sama, mereka pun akan berziarah juga ke makamnya Syekh Quro yang berada di Karawang.

a.Pendidikan Mama Ajengan Bakri

Mama Ajengan Bakri dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama. Sejak kecil, beliau di ajarkan berbagai ilmu agama islam oleh ayahnya. Diantaranya ilmu tauhid, fikih, nahwu, sharaf, tafsir dan hadist. Menjelang usia sekolah, ayahnya mengirim beliau ke beberapa pesantren yang ada di pulau Jawa hingga Mekkah.

Namun sebelum, Mama Ajengan Bakri pergi mesantren, ayahnya berpesan untuk tidak kembali ke Banten, ataupun menyusuri mengenai silsilahnya, hingga beliau selesai belajar. Setelah beliau menyelesaikan mesantren di pesantren yang satu, beliau beralih ke pesantren yang lainnya.

Begitu seterusnya, sehingga guru-gurunya tercatat di berbagai daerah di pulau Jawa dan Mekkah. Diantaranya da yang berasal dari Tasikmalaya, Cianjur, Semarang, Betawi, dan Mekkah Almukaromah. Sepulangnya beliau dari Mekkah setelah menuntut ilmu, yaitu sekitar tahun 1911 masehi, beliau akhirnya kembali ke Plered.

Di Plered inilah, beliau mulai berdakwah dan mengamalkan ilmunya yang beliau peroleh dari pesantren-pesantren yang beliau masuki. Selama beliau berada di Plered, banyak orang-orang yang berduyun-duyun datang ke kediamannya, baik itu untuk mempelajari ilmu agama islam, maupun untuk meminta pertolongan dari mama ajengan.

Hingga akhir hayatnya, dan beliau dimakamkan, makamnya masih terus didatangi peziarah. Umumnya, mereka akan melakukan wirid, tawasul serta dzikir di makam Mama Ajengan Bakri ini. Termasuk juga anda yang menggunakan sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dari Batavia Trans ini.

b. Peninggalan Mama Ajengan Bakri

Mama Ajengan Bakri penganut tarekat Qodriyah wa Naqsabandiyah. Sepulangnya dari Mekkah, beliau mendirikan sebuah pesantren di Sempur, Purwakarta. Pesantren tersebut diberi nama pesantren Assalafiyah, yang masih ada hingga sekarang.

Anda juga bisa mengunjungi pesantren ini bersamaan dengan ziarah yang dilakukan bersama sewa elf Jakarta ziarah ke Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dari Batavia Trans. Karena selain, mengunjungi makam Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri, jika memungkinkan, anda juga bisa sekalian mengunjungi pesantren tempat kedua ulama tersebut berdakwah dan mengajarkan ilmu agama islam.

Diantaranya Pondok Quro di Karawang, yang merupakan pesantren peninggalan Syekh Quro, dan pesantren Assalafiyah ini yang dibangun oleh Mama Ajengan Bakri. Selain membangun sebuah pesantren, Mama Ajengan Bakri juga tercatat telah banyak menulis buku dan kitab.

Diantaranya kitab Cempaka Dilaga, kitab Maslakaul Abror, Futuhatut Taubah Fi Shidqi Tawajuhit Thariqoh, Fawaid Al-Mubtadi, dan masih banyak lagi. Bukan hanya kitab-kitab saja, namun masih banyak lagi peninggalan-peninggalan beliau yang masih bermanfaat hingga kini, baik berupa bangunan hingga buah pikiran serta perilakunya yang menjadi tauladan bagi seluruh muridnya juga masyarakat sekitar.

Tak heran, jika pada hari wafatnya, banyak orang yang merasa kehilangan. Banyak dari para pelayat dan peziarah yang tak henti-henti mendatangi makam beliau yang berada di desa Sempur, kecamatan Plered, kabupaten Purwakarta.

Hingga sekarang ini, makamnya tersebut tak pernah sepi oleh peziarah. Bagi anda warga Jakarta dan sekitarnya, yang ingin juga melakukan ziarah ke makam beliau, anda juga bisa menggunakan sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dari Batavia Trans.

Mama Ajengan Bakri meninggal di malam senin, tanggal 27 Zulkaidah 1395 hijriah. Jika dalam penanggalan masehi yaitu di tanggal 1 Desember 1975. Beliau wafat dalam usia 100 tahun lebih. Tepat di tanggal wafatnya tersebut, yaitu dalam penanggalan hijriah, selalu diadakan peringatan haul wafatnya beliau yang tentu saja, banyak mendatangkan peziarah dari berbagai daerah di pulau Jawa.

Itu beberapa kisah dan riwayat dari Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered, yang merupakan tujuan wisata religi kali ini. Dengan sewa elf Jakarta ziarah Syekh Quro dan Mama Ajengan Bakri Plered dari Batavia Trans, anda bisa berziarah ke 2 tempat tersebut hanya dengan 1 armada, dan dalam 1 kali perjalanan.